Kamuku

Puzzle yang ada dalam kepalaku

perlahan-lahan mulai terisi oleh serpihan-serpihan dari setiap dirimu.

Menyatu dalam jiwaku

Menampakkan keagungan dari rasa yang diciptakan olehNYA

                Menyusuri setiap jengkal waktu

                Dalam perjalanan tanpa lelah

                Kubersimpuh pada kaki kubu kehidupanMU

                Menjuntai air mata atas setiap dosa yang ada

Kuingin membersamaimu selamanya

Dalam setiap detik kehidupan yang ia telah Dia titahkan kepadaku

Memelukmu dalam setiap dekapan degup jantungku

Menapaki setiap anak anak tangga yang menanjak

Bersama dirinya untuk berjumpa denganMU.

                Alunan rinduku pada dirimu

                Semakin merekah oleh senyumanmu

                Mengalir dalam setiap tetas darahku

                Bermuara pada hati yang rintihannya telah engkau obati

Aku tak pernah berharap menghapus namamu dalam kepalaku

Meninggalkan setiap kebaikan yang ada pada dirimu

Menusuk jantungku dengan pisau kepedihan

Meracuni hatiku dengan rasa hampa tanpa dirimu

                Rasaku adalah rasamu

                Mencoba untuk mencari tempat berlabuh

                Pada dermaga yang damai

                Pada ombak yang bersahaja

                Disaat mentari memulai senyumannya

Dan pada saatnya,

Kuingin memilikimu seutuhnya

Jiwa dan fisik yang menyatu

Dalam naunganNYA

#edisisastra

Iklan

Buku

Tak jadi maslaah seberapa banyak buku yang anda miliki dalam lemari anda, seberapa sering anda membukanya dan seberapa banyak yang sudah anda baca, itulah yang penting. Saya pernah bersama seorang teman di tahun pertama masa kuliah sama-sama membeli sebuah buku dengan judul yang berbeda menyesuaikan dengan minat pada saat itu. Namun ada satu hal yang membuat saya tertawa geli, tiga tahun setelahnya saya sudah lupa siapa yang meminjam buku yang saya beli dulu dan tidak mengembalikannya, sementara buku yang di beli oleh teman saya, ternyata masih dalam keadaan terbungkus denga rapi lengkap dengan barcode harganya. 

Mungkin teman saya memiliki argument lain, sehingga ia rela untuk menyimpan bukunya yang dibelinya tiga tahun silam tanpa sekalipun membuka pembungkus lalu membacanya dan mengambil pelajaran darinya. Namun menurut saya, sebuah buku adalah buku yang akan menularkan manfaat jika ia dibaca, tanpa itu, buku hanya akan menjadi penghias lemari-lemari anda dan menjadikan anda terlihat sebagai kutu buku.

Membaca buku adalah salah satu terhemat untuk anda berkeliling dunia. Jika anda tidak punya duit untuk membeli sebuah buku yang menurut anda menarik untuk di baca, cukup mencari teman anda dan meminjamnya,bawa pulang kerumah dan anda pun dengan leluasa membolak balik tiap halamannya ditemani secangkir teh hangat. Saya sendiri serung melakukan hal itu. Jangan ada rasa rendah diri ketika harus meminjam buku, yang perlu anda ingat adalah mengembalikan buku itu ketika anda selesai membacanya.

Salah seorang teman saya pernah berkata ” orang yang meminjamkan sebuah bukunya kepada orang lain adalah orang bodoh, namun lebih bodoh lagi seorang yang meminjam sebuah buku, namun mengembalikan ke pemiliknya”.  Jelas saya tidak setuju dengan pernyataan ini, namun di keseharian, ternyata ini banyak terjadi. “Lho kan sudah saya kembalikan”,”aduh saya lupa tempat menyimpannya, saya cari dulu ya..”, ” Bukunya enak dibaca, saya masih mau baca,boleh ya?” adalah pernyataan yang sering dilontarkan ketika menagih buku yang dipinjam oleh teman-teman.

Sepi dikeramaian.

“Di dalam keramaian aku masih merasa sepi,sendiri memikirkan kamu (Pupus/Dewa19).

Saya berpikir mngkin pada saat menciptakan lirik lagu ini, Ahmad Dhani sedang duduk merenung di atas kuburan, Namun ternyata memiliki sebuah pesan lain yang ingin disampaiakan secara epik. Terkadang dalam meniti lorong waktu penuh liku, ada banyak canda tawa disana, namun bumbu tangis dan sedih senantiasa menyertai setiap langkah. Tuhan menciptakan rasa senang dan rasa sedih, namum manusia memiliki keputusannya sendiri untuk menggunakan rasa itu. To be continued……

Pelajaran Matematika

Tadi sore saya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke ke rumah keluarga yang berprofesi sebagai seorang guru matematika di salahsatu sekolah Menengah Tingkat Atas. Saya membuka salah satu dari beberapa buku pelajaran yang ada di meja tamunya. Mebolak balik lembar demi lembar. Langsung mengingat waktu jaman SMK dulu yang terkadang harus belajar hingga subuh demi memahami semua rumus yang di ajarkan disekolah. Terkadang juga meminta waktu khusus dari guru matematika untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai rumus-rumus yang bagi saya sangat sulit untuk dimengerti.

Sinus, Cosinus, Tangen, Cotangen, Persamaan Linear, Sudut Alfa dan masih begitu banyak lagi rumus-rumus yang harus sy hafalkan demi sebuah nilai sempurna di raport.

Namun itu sudah hampir 13 tahun yang lalu.  Saat ini, terkadang saya berpikir, untuk apa semua rumus-rumus itu harus dimasukkan ke dalam kurikulum matematika. kenyataannya, diperusahaan tempatku bekerja sekarang, tidak pernah seorangpun, ataupun tugas yang diberikan oleh atasan, harus menggunanakan rumus-rumus tersebut. Saya justru terkadang dibuatkelimpungan dengan pertanyaan “berapa 16 X 8?,berapa 15443 +44?, Berapa 498 : 6?”yang harus di jawab dalam hitungan detik.

Mungkin ini sifatnya kasuistik, namun seingat saya, tidak pernah menemukan ada dalam diktat matamatika (dulu) yang mengajarkan cara menyelesaikan operasi matematika sederhana (baca;penjumlahan, pembagian, pengurangan dan perkalian). Saya begitu ingat dengan kata-kata guru waktu sekolah “banya jalan menuju roma, supaya cepat pakai kalkulator”. Mungkin ada benarnya, namuntidak semuanya benar……